2 Jam disengat Lebah

“Aduh…” teriakan seorang ibu pedagang asongan yang kaki kanannya terperosok ke dalam sebuah lubang kecil di lantai kereta ekonomi. Kotak asongannnya jatuh, dagangnya berserakan. Ibu itu terseok dan tubuhnya hampir jatuh, menyandar pada seorang bapak di depannya.

Dibantu sang bapak, Ibu asongan itu bangkit. Kotak asongannya berantakan. Sendal jepitnya tertinggal di lobang itu. Dia mengambil sendalnya, memakainya lagi, kemudian berjalan ke gerbong di depannya, dengan terpincang-pincang.

Beberapa orang berkomentar tentang lobang di lantai kereta itu…

“Ini gimana sih, petugas kereta, ngga meriksa..”

“Untung cuman jatuh aja, coba kalau celakanya lebih parah…”

“Emang, kalau kereta murah, ya begini…”

Komentar-komentar yang tak solutif. Lobang itu pun tetap demikian. Tak ada perubahan. Ketika berhenti di stasiun berikutnya dan ada seorang ibu lain yang naik, kemudian hampir saja terperosok ke lobang itu, dia hanya melihat lobang itu dan mulutnya bergumam sesuatu sambil tangannya mengelus dada.

Penumpang lain di sekitarnya hanya bilang…

“Tadi malah ada yang jatuh Bu..”

Lubang itu tak berubah.

Tak beberapa lama, ada seorang anak yang biasanya membersihkan lantai kereta, kemudian meminta upah seadanya. Dia membawa sapu lidi pendek di tangan kanan dan karung lusuh di tangan kiri. Jalannya gontai.

Ketika mendekat ke lobang, anak itu berhenti dan mengambil sesuatu dari dalam karung. Triplek berukuran kecil. Kemudian dia meletakkan triplek itu di atas lobang. Agak kekecilan, tapi lumayan pas untuk menutupi lubang di lantai kereta itu. Kemudian ia menggunakan pangkal sapu lidi pendeknya, dia menekan triplek penutup lubang itu supaya lebih pas.

Setelah lubang itu tertutupi, anak pembersih lantai kereta itu melanjutkan perjalanannya, tak melihat sekeliling, tapi diikuti pandangan dari penumpang lain yang beberapa diantaranya berkomentar tapi tak memberi solusi.

Anak kecil pembersih lantai itu pakaiannya memang kotor, tapi hatinya bersih, tulus memberikan solusi.

****

Kejadian diatas diambil dari Buku Lebah Cerdas. Adalah suatu rejeki jika kemudian penulisnya, mas Baban mengkisahkannya langsung kepada saya. Tepatnya di malam senin kemarin, dari jam 9 sampai 11 malam. Entah angin apa yang berhembus, mas Baban, yang kebetulan sudah 3 tahun tak berjumpa tersebut menghubungi saya via sms kalau sedang acara di Surabaya. Karena sudah lama sekali ingin bertemu dengannya, langsung di malam itu juga saya menuju Shangri La tempat dia acara dan bermalam.

Tapi sebelum menuju Shangri la saya mampir dulu ke TB Gramedia memburu beberapa buku Mas Helmy Yahya agar beliau berkenan langsung membubuhi catatan buat santri Malhikdua di bukunya. (Kedatangan mas Baban sendiri memang dalam rangka tugasnya menemani Mas Hemly Yahya memberikan seminar terkait Successful Entrepreneurship).

Bertemu dengan mas baban memang sangat mengesankan. Setidaknya bagi saya pribadi. Banyak hikmah yang saya petik darinya karena kebetulan kawan saya itu seorang penulis yang sering mengangkat pengalaman hidupnya menjadi sebuah mutiara hikmah, seperti yang dikisahkan diatas. Kisah-kisah menarik tentang kerjaan, keluarga, sosial, hingga pengalamannya berhasil ngobrol 2 jam dengan Bobbi DePorter, pengarang Quantum Learning dengan ‘menyamar’ menjadi petugas stempel sertifikat, cukup menyegarkan hati saya yang sudah lama kering.

Selain berbagi pengalaman dia juga berbagi kiat menulis, terutama bagaimana seharusnya kita memposisikan otak sebagai sebuah PC yang penuh folder-folder angle dari setiap peristiwa. Mendengarnya saya menjadi tersindir. Ternyata banyak peristiwa-peristiwa yang saya alami tapi setiap itu pula saya lewatkan. Tak ada upaya bagi saya untuk menemukan madu kehidupan, seperti yang menjadi tagline dari si Lebah.

Dua jam bersama mas Baban saya bagai disengat lebah disana-sini. ***

Foto-foto :

Tanda tangan Mas Helmy untuk santri-santri Malhikdua
Tanda tangan Mas Helmy untuk santri-santri Malhikdua
(Visited 14 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov