9 Pertanyaan untuk 3 Penerus M2Net

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kembali dipertemukan dalam suasana militansi anak-anak m2net. Bertemu dengan anak-anak pilihan yang mampu lolos dari uji nyali selama setahun. Dari 40an menjadi 20, kemudian 10, hingga tersisa 6. Anak-anak lain bukannya kurang skill, kemampuan, atau keringat, tapi kristalisasi generasi harus kami lakukan agar para senior dan pembina mudah menanamkan misi ditengah padatnya waktu mereka. Kamipun juga bisa mudah melakukan penempaan. Tentunya dengan harapan agar 3 anak terpilih dari putri, dan 3 putra nantinya mampu menularkan hasil tempaannya ke teman-teman lain seangkatan. Karena sejatinya anak-anak yang tidak terpilih itu bukannya tersisih apalagi terbuang, namun disimpan sebagai bagian dari strategi perjuangan.

Dari proses kristalisasi itu endingnya disaring lagi menjadi 3 untuk menduduki pos keredaksian. Bukan menafikan fungsi organisasi dan komunitas, tapi karena redaksi masih menjadi core atau bagian utama M2net.

Tiga srikandi terpilih itu bernama Mela, Hafata, dan Arina. Semua berasal dari non MAU. Its Great!. Saya tak kuasa menunjuk mana yang lebih unggul diantara ketiganya, masing-masing punya style sendiri. Tapi berdasar kebutuhan akan kondisi sekarang, sosok Hafata dianggap lebih mampu memimpin redaksi. Setidaknya untuk saat ini, berdasar diskusi dengan teman-teman seangkatan (memaksa muda 🙂

Untuk Hafata, saya ucapkan selamat atas terpilihnya anda secara bulat lewat uji kelayakan berlapis. Seorang pemimpin tak akan bisa bekerja sendiri. Sehebat apapun anda. Organisasi atau redaksi tidak akan berjalan tanpa dukungan kawan-kawan. Upayakan minimalisir konflik, ajaklah kawan-kawan selalu tetap dalam rel kerjasama (team work). Bagi Mela dan Arina, yang saya anggap punya kapasitas berimbang dengan Hafata, tetaplah untuk selalu menjaga kesolidan. Tetap bertahan dalam rel.

***

Hafata, Mela, dan Arina telah mengetahui bagaimana jobdesk sebuah keredaksian. Jujur, seberapa kuat kerjasama anda bertiga saya masih ragu keredaksian bisa berjalan. Saya akrab dengan berbagai generasi di M2net. Semuanya lemah dalam membawa roda organsiasi keredaksian. Kalaupun terlihat unggul, hanya sementara, tidak akan awet, dan itupun hanya terlihat dipermukaan. Di dalam, siapa yang tahu kalau redaksi di M2net tak jauh beda dengan keadaan2 di organisasi lain.

Karena kesangsian (keraguan) itu saya menumpahkan uneg-uneg, ganjalan di hati, atau apalah namanya. Saya mohon Hafata, Mela, dan Arina menjawab kegelsahan saya melalui kotak komentar di bawah. Tak perlu menunggu saya datang. Anda bagian dari teamwork, silakan saling berdiskusi sebelum menjawab. Terserah siapa yang mau menjawab, boleh Hafata, boleh Mela, atau Arina. Jika jawaban Hafata dirasa kurang memuaskan silakan Mela atau Arina menambahkan di komentar berikutnya. Intinya, semua boleh menjawab bersama-sama2, semakin banyak jawaban anda tentu cukup membuat saya kembali bisa tidur nyenyak.

Uneg-uneg pertama,

Saya tidak terlalu pusing dengan kualitas berita karena kita semua sepakat bahwa di M2net kita sedang belajar, tanpa pendampingan, tanpa ada yang ngurusin. Disini kita belajar secara otodidak alias mandiri. Namun pihak sekolah sering mengkritisi habis-habisan kualitas berita di Malhikdua. Jika itu masih dilakukan, dan terang-terangan dikatakan di depan anda semua, bagaimana anda mensikapinya? Cuma diam, menganggap ini cobaan, atau balik protes?

Uneg-uneg kedua,

Teamwork anda cuma 3 gelintir, ditambah dengan anggota2 lain yang belum tentu mau bisa diajak kembali. Sementara jumlah rubrik dan kanal di Malhikdua sangat banyak. Anda ingin menghilangkan 1 rubrik/kanal? Pasti itu membuat hati penggagas rubrik/kanal tersebut menjadi luka, merasa tidak dihargai perintisannya dulu. Mengelola semua? Atau Sambil jalan? Tolong beri jawaban yang memuaskan karena Media Malhikdua telanjur dikenal dan diunggulkan pihak luar..

Uneg-uneg ketiga,

Idem dengan diatas, terkait keterbatasan SDM. Visi malhikdua adalah mengangkat muatan lokal pesantren ke luar. Anda tahu sendiri, ponpes ini sangat luas. Padat kegiatan, banyak organisasi, dan macam2lah. Mampukah anda memuatnya tanpa kehilangan spot disetiap peristiwa? Bagaimana strategi anda?

Uneg-uneg keempat,

Sebagai wartawan tentu anda tahu bahwa “Anjing gigit manusia itu biasa, tapi kalau manusia gigit anjing itu baru berita.” Memang banyak keunikan2 di pondok yang bisa anda angkat ke media, tapi bagaimana dengan berita2 miring dan kontroversial, masih beranikah anda mengungkapkannya? Ingat loh, redaksi2 sebelumnya sangat berani mengangkat peristiwa negatif disekitar, tapi pemred mampu mengemasnya dengan apik sehingga berita negatif tetap dapat diambil hikmahnya. Orisinal berita Malhikdua yang membuat tampil beda, tidak pilih2 berita, mau positif atau negatif tetap dimuat. Para redaksi sebelumnya cukup berani meski dengan resiko dirongrong pihak lain.

Saya tidak membutuhkan penjelasan anda. Cukup jawaban: YA, KAMI REDAKSI BARU TETAP MENJAGA TREN YANG SUDAH DILAKUKAN REDAKSI2 SEBELUMNYA. ATAS NAMA KEBENARAN YANG KAMI YAKINI, KAMI BERANI MELIPUT, MEMUAT, DAN BERTANGGUNG JAWAB AKAN HASILNYA.

Uneg-uneg kelima,

Setiap generasi selalu menelorkan ide-ide baru terkait kanal jurnalistik. Sebutlah misal: tahukah antum, bincang, konsultasi, investigasi, infotainment, kiprah alumni, dan lainnya. Tapi rupanya semua itu hanya ide, kalaupun terwujud hanya hangat2 tahi ayam, alias sesaat dikala efuria. Saya paham sekali kalau kanal-kanal tersebut butuh effort lebih dibanding sekedar menulis berita, tapi tentu kita semua tak ingin kanal-kanal itu akhirnya cuma jadi penghias media saja, yang isinya selalu itu-itu saja. Apakah anda, para redaksi baru, tetap membuat itu jadi penghias saja? Membiarkan tanpa ada pengembangan?

Uneg-uneg keenam,

Anda pasti tahu, dan harus tahu kalau dalam bagan keorganisasian redaksi ada Dewan Redaksi. Fungsinya untuk memberi masukan dan arahan. Sementara anda di redaksi merupakan bagian sendiri yang fungsinya di ranah eksekusi, anda punya kekuatan dalam rapat redaksi. Jika suatu saat kebijakan dan langkah anda di keredaksian berseberangan dengan Dewan redaksi, apa yang harus anda lakukan? Tetap bertahan dengan keputusan anda sebagai pemred atau mengikuti arahan Dewan Redaksi? Jelaskan!

Uneg-uneg ketujuh,

Rata-rata daya tahan meliput wartawan tak sampe 2 bulan, sementara kegiatan redaksi harus tetap berjalan. Masalah ini selalu berulang setiap tahun. Saya tak ambil pusing mereka yang bosan itu diberhentikan atau dihibur dengan segala macam penyegaran. Saya hanya ingin tahu bagaimana cara anda dalam kondisi jaya maupun terpuruk redaksi tetap berjalan. Silakan dijelaskan

Uneg-uneg kedelapan,

Saya cukup mengenal tipe dan pola-pola kepemimpinan di M2net. Selain karena latar belakang pribadi si pemred tsb juga dibentuk oleh kondisi di lapangan. Sedikit cerita, era pemred dipegang ka Ishak, suasananya adem ayem dan hampir tak pernah ada konflik dengan pihak luar. Mungkin karena statusnya sendiri yang sudah bukan lagi siswa, melainkan kruchild/staff guru. Pokoknya dia memimpin dengan cool, slowly, tak ada terobosan berarti karena di era itu internet masih belum terlalu dikenal sehingga perannya di pemred malah sering bergeser jadi pengenal dunia internet, bukan lagi ngomongin redaksi. Pergeseran lain: Dia sering menjadi tempat curhat ditengah anggotanya yg putri. ahaa :-).

Era Damai, terjadi perubahan luar biasa. Di masanya, m2net benar-benar murni dikelola siswa. Karena karakternya yang perfect dan disiplin dalam berorganisasi membuat banyak muncul barisan sakit hati. Termasuk hubungan dengan ketua umum dan organisasi yang tidak harmonis. Banyak gesekan disana-sini yang menurut saya karena M2net sendiri berasal dari berbagai macam jurusan, kelompok, dan organisasi. Belum lagi faktor minimnya perhatian sekolah. Namun banyak anak menilai lain, sehingga gejolak2 yang terjadi membuat Damae menjadi sosok yang dipuji sekaligus dicaci. Whatever, dia yang membuat M2net disegani dan punya ruangan seindah istana.

Sepeninggal Damae, terjadi kekosongan pemred, dan saya membiarkan tetap kosong agar pihak-pihak yang tidak suka kesulitan mentarget sasaran. Terbukti benar, saat konflik dengan beberapa pihak tak ada seseorang yang dianggap bertanggunggjawab. Semua dipikul rata. Maju-maju bareng, lari terbirit-birit pun juga bareng 🙂

Era Fajrul, tetap dalam kacamata saya, kepemimpinannya cukup terbilang santun dan penuh kehati-hatian. Dia selalu mencoba akomodir tapi terhambat perbedaan jenis, dimana para anggotanya mayoritas putri. Saya suka mottonya: yang penting update!, ya, karena itu sebuah keniscayaan ditengah realitas sulitnya waktu untuk update. Yang membuat saya takjub, kepeduliannya terhadap redaksi sering diwujudkan dengan ide2 baru, tapi dengan swadaya, dana-dana sendiri.

Era Hafata, Gimana? Ini pertanyaan khusus buatmu. Diantara ketiga tipe diatas mana yang kamu sukai? Apakah kamu ingin menjadi salah satu diantara mereka atau ingin membawa model baru menurut karaktermu sendiri?

Jika model baru, okey tak perlu kamu jelaskan sperti apa. Cukuplah kamu bikin saya penasaran.. Rasa penasaran itu yang akan membuat saya terus memantau perkembangan.

Uneg-uneg kesembilan,

Kalian adalah anak2 muda, punya semangat tinggi, tapi sering kurang perhitungan dalam mengukur kemampuan. Tapi its oke. Saya lebih melihat anak-anak muda itu penuh kreativitas. So, jangan sia-siakan masa anda. Sekarang lihatlah bareng2 wajah website. Apa yang kamu inginkan terhadap website tersebut? Tak usah kuatir, itu website milik anda. Silakan didiskusikan dan jawab dengan argumen yang bisa meyakinkan bahwa anda memang kreatif dan akan membawa angin baru..

Salam,

(Visited 15 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov