Nikmatnya NgeFLY bersama AirAsia

BAnjir sangat menyusahkan dan menjadi berita dari banyak orang. Di media TV, internet, dan radio bulan-bulan ini selalu dipenuhi berita seputar Banjir. Blog Pak Sawali juga tak luput dari tema tersebut. Sangat real time karena beliau adalah salah satu korban dari efek keseimbangan alam di kotanya, Kendal, yang secara geografis bertetangga dengan raja banjir, semarang.
Gara-gara banjir di kota Semarang itu membuat saya kemudian jadi pusing tujuh keliling.

Betapa tidak, Rabu besoknya saya sudah harus di Jakarta mengisi pelatihan di dua tempat. Sementara , kabar yang berkembang, Kereta-kereta dari Surabaya sampai siang hari belum masuk Jakarta. Banjir memaksa PT KA mengalihkan rutenya dari Pantura ke Selatan. Padahal tahu sendiri, rute selatan, mulai Jogja âââ€Å¡¬\” Jakarta dikenal sebagai jalur gemuk. Berpuluh-puluh Kereta berseliweran di jalur tersebut. Kalau ditumpuk dengan kereta-kereta Pantura seperti Argo, Sembrani, Gumarang, Kertajawa, RAjawali, dll bisa dibayangkan..

Tak perlu berpikir-pikir panjang, karena waktu sedemikian berharga, ditambah pertimbangan dari rekan di Jakarta, maka saya putuskan naik jalur udara. Berikutnya saya langsung googling sana-sini mencari tiket, dan didapat AirAsia dengan harga yang relative cocok disaku.
***

Sebenarnya cukup keder juga bakal naik AirAsia. Pengamatan saya, complain sering dialamatkan ke maskapai tersebut. Lewat Media cetak dan Online seperti Detikcom. Bukan soal keselamatan, tapi masalah service yang konon semaunya sendiri. Terlebih airasia memakai model paperless untuk tiket, sebagai strateginya menghadapi perang tariff. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“Beliâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ barang semahal kelas pesawat rasanya koq nggak mantep jika tidak disertai bukti lembaran surat. Serasa beli kacang garing. Mana menurut kabar tanpa nomer kursi pula, pasti nanti semua saling berebutan, walaupun pihak Maskapai meyakinkah bahwa jumlah passangger tak akan melebihi jumlah set. Selalu pas.

Beruntung, kekederan tidak berlangsung lama. Terjawab langsung malam itu juga. Saat boarding, saya cukup menunjukkan print out email hasil transaksi online dengan airasia, disertai bukti KTP dan Kartu Kredit yang dipakai untuk pembayaran. Berikutnya petugas memberikan beberapa lembar, mulai dari struk bagasi, lembar FAQ/panduan, hingga lembar yang berisi nomer urut kursi. Cukup membuat saya berubah stigma. Menjadi mantap.

Kepuasan tidak berhenti disitu. AirAsia sangat ontime dalam schedulle. Tertulis jam 20.55 berangkat, di detik itu juga pesawat Takeoff, dan Landingnya tepat pkl 22.15 sebagaimana yang tertulis di surat. Kalau bukan karena kelas ekonomi mungkin tak membuat saya heran. Sama-sama kelasnya, 4 tahun silam, Mandala Air pernah bikin jera sekeluarga setelah delay-nya gak tanggung-tanggung, hingga 3 jam. Padahal saat itu kami membawa bayi yang masih rentan rewel di jalan.

Kursinya, walau economic class cukup bisa membuat saya pulas juga. Entah, mungkin karena capek setelah 2 hari lembur. Begitu bangun, tahu-tahu sudah mendarat. Padahal kalau sudah terbang, saya menantikan efek turbulence yang cukup menegangkan. Pengalaman berbeda saat memakai jasa Adam Air dan XXX Air. ‘Turbulence’ tidak disebabkan dari pengaruh udara dan ketinggian saja, tapi factor mekanik didalamnya. Yang saya ingat, gesekan engsel-engselnya sangat terasa baik takeoff maupun landing. Tentu saja ini membuat bibir seluruh penumpang komat-kamit. Beruntung, saya berikut penumpang-penumpang lain tak lagi dikecewakan. Adam air sudah tobat dan terbang jauh ke sorga.

Dan yang paling penting dan berkesan dari semuanya adalah Pramugari. Tapi saya rasa ini tak perlu diceritakan. Sangat subyektif dan relative dari setiap laki-laki.

Terima Kasih AirAsia

—–

Foto diambil dari sini.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov