Kereta Api tak lagi seperti dulu, semenjak dipegang Jonan, PT KAI melakukan banyak perubahan di banyak sisi, mulai system ticketing, gerbong, hingga stasiun. Dulu naik gerbong ekonomi selalu dusel-duselan, sekarang enggak, karena 1 tiket untuk 1 seat. Dulu harus gobyos sekarang bisa pules kena AC. Itu salah dua contohnya.

Sayangnya tak ada makan siang gratis. Dari ekonomi, bisnis, hingga kelas Eksekutif berlomba-lomba menaikkan tiket. Semua perbaikan kualitas itu harus dibarengi dengan harga tiket yang melangit. Beberapa tahun sebelumnya saya pernah merasakan harga tiket Bima relasi PWT – SBY bisa Rp. 160rb. Kemudian merangkak naik, dan sekarang bisa mencapai 400rb. Wuih.

Namun bukan berarti kita tak bisa menikmati nyamannya gerbong Eksekutif. PT KAI membuat kebijakan dengan membanting harga tiket untuk penumpang yang membeli secara GoShow atau beli langung maksimal 2 jam sebelum jadwal keberangkatan. Harga murah berlaku untuk relasi pendek (belum jelas berapa km ) dan tentu selama seat masih tersedia.

Kemarin saya coba membeli tiket Argo Wilis relasi Madiun – Surabaya Gubeng yang normalnya Rp. 280rb (via Tiket.com) ternyata dijual seharga Rp. 90rb di loket. Cukup murah bukan. Bandingkan dengan KA Pasundan (Ekonomi). Untuk relasi sama, harganya Rp. 94rb. Malah lebih mahal, bahkan nyampenya lebih lama.

Oke guys. Selamat mencoba.

Foto: Google/Ricky Rianto

(Visited 26 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov